Tags

, , , , , , , ,

 Author harap kalian gak lelah dan bosan menunggu hehe karena ff segera bakal di update kok :) Nih aku kasih poster spoilernya!Semoga kalian suka!

Title : Day By Day | Author : Agasshiel | Genre : Sad, Family, Marriage-life, Mellow-drama | Rating : PG-17 | Main Cast : Bae Suzy, Park Chanyeol, Jung Soojung | Other Cast : Find by yourself!

Note : This is a work of fiction. This is a fictional story about fictional representations of real people. No profit was made from this work. All cast belongs to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Don’t be silent reader and plagiator, please.

∞∞∞

“Ini bukan deja vu, biarkan aku berharap. Apa kau bisa melihat hatiku? Tidak apa-apa jika tidak ada kata-kata, cukup melihatku lebih dari 3 detik. Itu sudah cukup pertanda kita pernah saling mengenal.”

~Story Begin~

Oraemaniyeyo Suzy”

Oraemaniyeyo Soojung-ssi!

***

“Kau tidak bilang jika wanita itu sepupumu dan putra CEO itu adalah lelaki itu” sahut gadis bermata sipit itu masih fokus menyetir pulang dari pesta

“Aku juga tidak tahu” balas Suzy memandang keluar kaca jendela mobil

“Kau baik-baik saja?”

Suzy menghelas nafas berat “Aku berusaha lebih dari itu”

“Aku akan selalu membantumu”

Gomawo, Seulgi-ah. Besok aku ingin mengunjungi ayah dan ibu ke Gwangju

“Baiklah, kita akan pergi bersama. Kita sudah lama tidak mengunjungi anak-anak nakal itu” balas Seulgi. Suzy mengangguk tersenyum kecil

***

Gwangju, South Korea

Suzy dan Seulgi berjalan beriringan menaiki tangga bangunan penyimpanan abu jenazah umum di kota Gwangju. Bangunan yang di dominasi cat abu-abu tersebut tidak terlalu ramai saat ini. Dengan menenteng karangan bunga kecil Suzy menuju tempat dimana kedua abu orangtuanya di simpan.

Suzy meletakkan karangan bunga itu diantara 2 guci dan bingkai foto kedua orang tuanya. Guci yang satu bertuliskan Bae Yong Joon dan yang satunya Park So Ae

Eomma, appa. Bagaimana kabar kalian? Aku datang berkunjung” Ujarnya tersenyum tulus dan mengelus foto dibingkai. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh namun ia gagal, dengan menundukkan kepala ia terisak.

“Ini sudah 9 tahun dan aku bisa bertahan, aku harus bertahan hingga akhir tanpa kalian, keutchi eomma appa?” lanjutnya

Sementara Seulgi yang berdiri agak jauh di belakang Suzy hanya memandang punggung gadis itu dalam diam.

FLASHBACK 9 years before

Kecelakaan fatal yang terjadi itu diakibatkan oleh dua mobil yang berlawanan arah. Polisi dan ambulan segera datang untuk memberi pertolongan, kedua orang tua Suzy mengalami luka yang cukup parah sementara Suzy yang duduk dibangku belakang hanya mengalami luka di bagian kepala segera dilarikan ke rumah sakit.

“Selamatkan ayah dan ibuku, aku mohon” racaunya menangis sejadi-jadinya kepada dokter saat mereka sudah berada di rumah sakit.

Suzy terus menangis di ruang tunggu tidak memperdulikan lukanya sendiri “Eomma appa, kumohon jangan tinggalkan aku sendiri lagi” gumamnya berulang-ulang selama operasi berjalan yang memakan waktu semalaman

“Suzy agasshi” sahut seorang pria duduk berjongkok di hadapan Suzy

Suzy mendongak dan mendapati sekretaris kakeknya disana “Ahjussi, tolong selamatkan ayah dan ibuku” ujarnya memohon pada sekretaris Choi

“Ya, tenanglah. Dokter akan menyelamatkan mereka. Sekarang kita obati dulu lukamu” Sekretaris Choi menenangkan dan membawa Suzy untuk mengobati luka di dahinya

Namun belum beberapa langkah, Dokter yang menangani kedua orang tuanya keluar dari ruang UGD dengan wajah penuh penyesalan.

“Bagaimana dengan eomma dan appa, uisanim? Mereka baik-baik saja, kan?” tanya Suzy harap-harap cemas

Sang Dokter hanya menatap Suzy prihatin dan duduk berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Suzy “Agasshi, maaf. Dokter tidak bisa menyelamatkan ayah dan ibumu” ujar Dokter tersebut pelan

“Bohong! Ayah dan Ibu tidak mungkin meninggalkanku!” teriak Suzy meronta

Sekretaris Choi langsung berusaha untuk menenangkan Suzy yang sudah menangis kuat dan meronta terus meneriakkan nama ayah dan ibu

Sementara di tempat lain, Bae Sangwoo dan Choi Ji Woo beserta Soojung sedang menggunakan pakaian serba hitam dan juga pita putih yang bertanda duka. Ruang berkabung di depan partisi ada meja kecil dengan foto almarhum Bae Dong Hwan dan beberapa tangkai bunga. Bae Sangwoo dengan istrinya dan juga Soojung yang duduk bersimpuh untuk menerima para pelayat yang datang meletakkan setangkai bunga lalu memberi hormat. Soojung tiada henti-hentinya menangisi kepergian kakek kesayangannya, Choi Ji Woo hanya mampu memeluk Soojung untuk menenangkannya sementara Bae Sangwoo menatap kosong kearah figura foto sang ayah, sorot matanya penuh kesedihan.

***

Suzy terduduk di pinggir ruang berkabung dengan memeluk foto kedua orangtuanya. Keadaannya benar-benar berantakan dengan pakaian serba hitam dan pita putih yang disematkan di rambutnya juga matanya yang sudah sangat membengkak karena menangis. Tidak banyak pelayat yang datang karena memang keluarga mereka tidak banyak, keluarga dari ayahnya tidak datang dan ibunya yang merupakan anak yatim piatu tidak memiliki keluarga seorangpun. Inilah bagian terburuk dalam hidupnya, tidak seorangpun disampingnya saat hal terberat itu datang. Hanya Sekretaris Choi yang membantunya saat ini mulai dari biaya rumah sakit hingga pengurusan proses pemakaman kedua orangtuanya.

“Anda sudah datang?” Sekretaris Choi yang sejak tadi berdiri diambang pintu ruang tersebut menunduk hormat melihat kedatangan Bae Sangwoo

“Bagaimana keadaanya?” tanyanya melihat Suzy yang hanya diam menatap kosong kearah pratisi meja yang berisi foto dan abu kedua orangtuanya

“Dia sangat terpukul dengan kepergian kedua orangtuanya” balas Sekretaris Choi prihatin

Bae Sangwoo menghela nafas berat melihat keadaan Suzy dan masuk kedalam ruangan itu lalu meletakkan dua tangkai bunga di pratisi dan memberi hormat kepada kedua almarhum kakak tiri dan ipar tirinya tersebut. Ia tidak menyangka keluarganya akan mengalami kemalangan berkali lipat seperti ini, ayahnya baru saja meninggal karena serangan jantungnya yang mendadak kambuh beberapa jam setelah insiden Bae Yong Joon yang menjemput Suzy dari rumah kakeknya dan mengakibatkan gagal jantung, lalu sehari setelah itu berita tentang kematian saudara tirinya karena kecelakaan

***

“Ayo, masuklah. Mulai sekarang kau akan tinggal bersama paman bibi dan Soojung lagi. Sekarang kami satu-satunya keluargamu” ujar Sangwoo pada Suzy yang sejak tadi hanya diam setelah melayat selesai dan Bae Sangwoo memutuskan untuk membawa Suzy tinggal bersamanya kembali karena memang dia satu-satunya keluarga yang Suzy miliki

“Naiklah ke kamarmu yang dulu dan istirahat” Bae Sangwoo mengelus rambut Suzy

Suzy hanya menurut naik kelantai 2 dan masuk ke dalam kamarnya yang dulu, Suzy benar-benar menjadi pendiam dan dingin. Tidak ada hasrat kehidupan dari sorot matanya.

Soojung membuka pintu kamar Suzy dengan kasar dan wajahnya penuh kemarahan “Dasar pembawa sial! Apa yang kau lakukan di rumahku?” teriaknya marah

Suzy yang duduk di bawah sisi ranjang hanya melirik kearah Soojung tanpa minat, dirinya benar-benar lelah untuk bertengkar.

Soojung melempari Suzy dengan album foto yang berisi foto-foto dirinya dengan kakeknya mulai sejak ia bayi, air mata dan isakan kerasnya sudah memenuhi kamar “Kau penyebab harabeoji meninggal. Kau! Jika kau tidak pernah datang ke kehidupan kami, itu tidak akan terjadi pada harabeoji!” teriaknya kearah Suzy, Soojung terduduk manangis meraung

Suzy terkejut dengan teriakan Soojung “Harabeoji meninggal?” gumamnya tidak percaya. Bagai tersambar petir, ia mendapatkan hal terburuk lagi hari ini. Ia tidak menyangka akan kehilangan orang-orang di sekitarnya. Meskipun Bae Dong Hwan bukan kakeknya yang selalu ada untuknya tapi ia benar-benar terpukul. Ia mengambil album foto yang tadi dilempar Soojung dan menatap foto kakeknya yang sedang duduk sambil merangkul Soojung dan dirinya, foto itu diambil saat perayaan ulang tahun Soojung yang ke-12.

Ia mengelus foto itu dan mulai terisak menangis “Harabeoji” cicitnya, bahkan untuk mengucapkan satu kata itu nafasnya terasa sesak. Isakan keduanya memenuhi kamar tersebut.

***

Agasshi, turun dan makanlah. Semua sedang menunggu dibawah” panggil pelayan dari pintu kamar Soojung

“Tidak. Aku tidak mau makan selama pembawa sial itu masih disini!” teriaknya ketus dari dalam

Pelayan dibuat kebingungan dengan sikap nyonya kecilnya itu

“Tuan, Soojung agasshi tidak mau turun dan makan” lapornya takut kepada Sangwoo

Sangwoo menghela nafas berat “Kalau begitu, kita makan saja. Biar nanti aku yang akan membujuknya”

Setelah makan malam selesai, Sangwoo membujuk Soojung untuk makan namun gadis kecil itu masih bersikukuh untuk menolak hingga ia menyerah untuk membujuk.

“Aku pikir Soojung benar, aku tidak setuju jika Suzy harus berada di rumah ini terus. Mereka selalu bertengkar dan tidak cocok. Soojung bahkan berubah semenjak Suzy berada di rumah ini. Aku tidak suka padanya” cerocos istrinya saat mereka berada di ruang kerja suaminya

“Apa maksudmu! Suzy keluargaku juga dan sekarang dia tidak memiliki siapa-siapa lagi!” bentak suaminya

“Maka dari itu, karena dia tidak memiliki siapa-siapa lagi sebaiknya dia tinggal di tempat yang memang sesuai untuk orang yang tidak memiliki siapa-siapa lagi”

“Choi Ji Woo!” bentarknya lebih keras

Sangwoo mengacak rambutnya frustasi, ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan fikiran istrinya ini.

Sementara di sisi lain, Soojung mendatangi kamar Suzy “Hei! Pembawa sial! Sekarang gara-gara kau ayah dan ibuku bertengkar” bentaknya

Suzy yang sedang menulis surat diatas meja belajarnya tidak bergeming dari kegiatannya tidak peduli dengan Soojung

“Hey! Kau tuli, eoh? Dasar anak yatim piatu!”

Suzy mulai terusik dengan kata-kata kasar Soojung namun ia memilih untuk tetap diam

“Kau seharusnya sadar kau tidak pantas untuk disini, ayah dan ibumu mati karena kau dan harabeoji meninggal juga karena kau! Sekarang kau membuat ayah dan ibuku bertengkar. Dasar pembawa sial!” makinya panjang lebar

“Hentikan!” teriak Suzy menutup telinganya tidak tahan dengan ucapan Soojung

Soojung tertawa sinis “Dasar pembawa sial!” ujarnya dan mengambil gitar Suzy yang berada diatas tempat tidur

Suzy tersentak saat melihat Soojung membawa gitar itu keluar kamar “Apa yang mau kau lakukan dengan gitarku?” Suzy menghentikan langkah Soojung dan berusaha merebut gitarnya tapi Soojung tidak melepasnya malah mendorong Suzy hingga tersungkur di lantai kamar.

“Aku akan menghancurkan gitar ini!” ucapnya tajam dan berjalan keluar kamar menuju tangga

“Jangan, aku mohon” Suzy mengejar Soojung yang berjalan menuju tangga

Hingga di pertengan tangga mereka kembali saling memperebutkan gitar itu

“Soojung jangan, kumohon. Ini gitar pemberian orangtuaku, hanya ini satu-satunya kenangan yang kupunya” mohon Suzy berusaha menarik gitar itu

“Lepas! Dasar pembawa sial!” teriaknya tidak mau melepaskan gitar itu

Hingga kaki Soojung yang berada di ujung tangga hilang keseimbangan yang membuat dirinya tergelincir dan jatuh dari atas tangga, badannya terguling-guling dari atas tangga hingga kebawah.

“Soojung!” teriak Suzy kaget, langsung mendatangi tubuh Soojung yang terkulai lemas dibawah

“Paman bibi, tolong!” teriak Suzy memegangi badan Soojung diatas lantai

“Ya ampun, Soojung!” teriak Ibu Soojung panik keluar dari ruang kerja suaminya

“Suzy, apa yang terjadi?” Ayah Soojung ikut panik dan mengangkat tubuh Soojung segera membawanya ke rumah sakit

***

“Keadaannya tidak terlalu serius, kami sudah melakukan pemeriksaan ke seluruh tubuhnya dan benturan itu tidak berakibat fatal. Jangan khawatir, ini hanya luka-luka ringan” ujar Dokter yang menangani Soojung

Sangwoo mengangguk lega “Begitu. Terima kasih Dokter”

“Ya kalau begitu saya permisi dulu” balas Dokter itu

Choi Ji Woo menggenggam tangan Soojung yang sedang tidur dengan selang infus di tangannya.

“Aku tidak yakin hal seperti tidak akan terjadi lagi jika anak itu masih tinggal bersama kita” ujar Choi Ji Woo tajam

“Apa maksudmu? Berhenti menyalahkan Suzy” balas Sangwoo

“Aku bukan menyalahkannya, tapi dia memang salah! Aku tidak ingin melihatnya lagi, kau lihat sendiri bagaimana keadaan Soojung dan ini akibat dari kau masih mempertahankan anak itu”

“Jadi kau ingin aku bagaimana? Aku tidak mungkin menyuruh dia pergi, dia keluargaku” Sangwoo berkata tajam dan serius

“Kenapa tidak? Tidak akan ada yang melarang untuk mengusirnya” sanggah istrinya

“Hentikan! Bagaimana bisa kau setega itu padanya?”

“Karena aku seorang ibu, seorang ibu akan melakukan apapun demi putrinya. Usir dia atau aku dan Soojung yang akan pergi” putusnya serius

“Choi Ji Woo!” bentaknya

“Aku hanya berusaha yang terbaik untuk putriku dan Suzy. Kau pikir Suzy juga akan bahagia jika terus berada di rumah kita? Mungkin lebih baik dia tinggal di tempat lain” Istrinya berusaha meyakinkan

“Tapi dia harus pergi kemana? Dia masih 13 tahun” Sangwoo bertanya frustasi

“Panti asuhan” balas istrinya serius

“Apa! Kau keterlaluan”

***

God’s Gift House, Gwangju

“Suzy agasshi mulai sekarang kau akan tinggal di panti asuhan ini. Jaga dirimu baik-baik dan bertahanlah” Sekretaris Choi menunduk dan mengelus rambut Suzy yang hanya diam. Sekretris Choi menghela nafas melihat Suzy yang semenjak kepergian orangtuanya menjadi sangat pendiam dan berubah drastis. Ia tidak menyangka nasib gadis kecil ini akan menjadi sangat malang. Sekretaris Choi mengeluarkan seluruh barang-barang Suzy termasuk gitar Suzy dari dalam bagasi.

“Selamat siang, tuan” sapa seorang biarawati kepada Sekretaris Choi

“Selamat siang. Namanya Bae Suzy, kemarin saya sudah mengurus segala kepindahannya kemari dan hari saya mengantarnya kemari” ujar Sekretaris Choi

“Hai, Suzy” sapa biarawati itu ramah sementara Suzy hanya diam

“Mulai hari ini kamu akan tinggal disini. Ayo masuklah, jangan khawatir kamu tidak akan kesepian disini” ujar wanita paruh baya itu menggengam tangan Suzy

“Suzy agasshi jangan menangis dan tertawalah bersama teman-temanmu. Hadapi masalah apapun, itu akan membuatmu kuat. Suatu saat nanti kau akan mengerti.” Sekretaris Choi sekali lagi mengelus kepala Suzy sebelum ia pergi dari sana

“Kalau begitu saya permisi” ujarnya menunduk sopan kepada biarawati tadi dan melajukan mobilnya dari halaman panti asuhan yang terlihat sangat asri tersebut

***

“Namamu siapa?” tanya gadis bermata sipit itu

Suzy mendongak namun tidak menjawab dan lebih memilih memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari “Kau tidak punya nama?” tanya gadis itu lagi

Suzy mengabaikannya lagi dan memegangi gitarnya “Kau bisa main gitar? Aku juga suka musik tapi aku lebih suka menari” gadis itu terus berceloteh walaupun diabaikan oleh Suzy

“Maaf jika aku menyinggungmu, tapi apa kau…bisu?” tanyanya pelan takut menyinggung Suzy

“Tidak” jawab Suzy akhirnya membuka suara seadanya

“Daebak! Akhirnya kau berbicara!” gadis sipit menutup mulutnya tak percaya “Kukira kau bisu ternyata tidak, nyatanya kau hanya pelit bicara. Dasar gadis dingin! Aku bisa mati kedinginan jika sekamar apalagi tempat tidur kita dekat seperti ini” gadis sipit itu berdecak

“Namamu siapa?” tanyanya ulang dan mengulurkan tangannya

Dengan ragu Suzy menerima uluran tangan gadis itu “Bae Suzy” jawabnya menerima uluran tangannya

Ia tersenyum “Namaku Seulgi, Kang Seulgi” mereka berdua tersenyum

Itulah awal dari persahabatan Suzy dengan Seulgi. Mereka bertemu dan menjadi keluarga di panti asuhan yang diberi nama God’s gift yang mana makna dari nama itu adalah hadiah dari Tuhan. Mereka percaya bahwa walaupun mereka anak yatim piatu dan hanya seorang diri di dunia ini tapi mereka masih mempunyai keluarga di rumah itu, keluarga yang di beri oleh Tuhan sebagai hadiah untuk kesabaran yang mereka lakukan.

Suzy masuk sekolah baru di Gwangju, sekolah yang sama dengan Seulgi. Mereka sudah sangat dekat walaupun Suzy masih dingin dan pendiam namun sikap Seulgi yang cenderung ceria dan ramah membuat mereka cocok satu sama lain.

“Suzy-ah kau dapat surat dari Sehun sunbae”

Suzy menerima surat itu dengan cuek “Kalian pacaran ya?” tanya Seulgi menyeringai

“Hey!” Suzy melototi Seulgi

Seulgi menciut melihat tatapan tajam Suzy “Arraseo, aku tidak akan bicara lagi”

“Tapi sepertinya dia sangat tertarik padamu, dia selalu memberimu surat dan cokelat. Ohya, kau tahu dia baru saja mengalami kecelakaan parah saat mereka dalam perjalanan ke Seoul dan beruntung mereka selamat”

Suzy tertarik dengan pembicaraan Seulgi “Benarkah?”

“Hm. Kudengar orangtuanya juga orang kaya berat di Seoul” ujar Seulgi bersemangat

“Kenapa dia tidak tinggal di Seoul saja, kalau begitu?”

“Katanya sih karena ibunya sering sakit-sakitan dan tidak suka suasana Seoul yang terlalu ramai”

“Oh. Begitu”

Sejak saat itu Suzy-Seulgi dan Sehun berteman dekat, Suzy mempunyai hadiah hadiah dari Tuhan yang membuatnya semakin bahagia. Ia sekarang percaya makna dari jalan yang telah ia alami ini, ada hal baik dari semua kejadian yang ia alami selama ia bersabar. Ya, yang perlu dia lakukan adalah tidak menangis dan tertawa bersama teman-temannya. Kebahagian datang kedalam hidupnya dan ia harap itu tidak akan berlalu. Untuk pertama kalinya ia bisa melupakan masalah yang ia alami selama ini karena bersama mereka membuatnya tidak memiliki waktu bahkan untuk bersedih.

“Suzy-ah ini surat dari Sehun sunbae” Seulgi meletakkan surat itu diatas meja belajar Suzy dengan lesu

Gomawo” Suzy tidak menyadari raut wajah Seulgi yang sudah sedih

Suzy membuka surat itu dan mulai membacanya, wajahnya yang tadi tersenyum mulai berubah. Setiap kata yang tertulis disana membuatnya sesak, dengan cepat ia beranjak dari kursi dan berlari keluar.

“Suzy-ah kau mau kemana?” teriak Seulgi

Suzy berlari secepat mungkin tidak perduli dengan nafasnya yang sudah tersenggal-senggal, menuju rumah Sehun. Walaupun ia tidak akan bisa menghentikan Sehun untuk tidak pergi setidaknya ia bisa mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya secara langsung. Saat sudah hampir sampai di rumah Sehun, ia melihat mobil keluar dari halaman rumah itu dan melewatinya begitu saja.

Sunbae” gumamnya melihat Sehun yang berada di dalam mobil melewatinya begitu saja tanpa menyadari dirinya berdiri disana

Suzy mengejar mobil itu dan terus meneriakkan nama Sehun namun tidak membuahkan hasil karena mobil itu terlanjur melaju jauh hingga melewati terowongan

“Sehun sunbae” gumamnya sedih dengan air mata yang sudah membasahi pipinya

“Sehun oppa” gumamnya sekali lagi berhenti berlari dan menatap mobil yang sudah tampak mengecil dipandangannya karena sudah sangat jauh

Ternyata benar bahwa tidak selamanya langit berwarna cerah, adakalanya mendung menghadang. Seperti saat ini, Suzy harus kehilangan salah satu teman terbaiknya Sehun, mereka harus berpisah. Sehun memutuskan untuk pindah bersama ibunya ke London karena ibunya akan melakukan pengobatan disana sekaligus menetap disana untuk jangka waktu yang tidak tentu.

FLASHBACK END

***

Setelah mengunjungi tempat penyimpanan abu kedua orang tuanya Suzy dan Seulgi pergi mengunjungi God’s Gift House untuk menyapa pengasuh mereka dan memberi hadiah kepada adik-adik asuh mereka disana. Suzy dan Seulgi saat menginjak usia 17 tahun memutuskan keluar dari God’s gift house dan mulai hidup mandiri mengingat usia mereka sudah dewasa. Mereka sekolah hingga kuliah dan bekerja untuk membiyai hidup mereka sendiri. Dan sekarang giliran mereka ingin membalas kebaikan para pengurus God’s gift house untuk membantu adik-adik asuh di panti itu.

***

“Annyeong” sapa Seulgi ke beberapa staf yang sudah hadir pagi ini di perusahaan

“Oh, kalian sudah datang” sapa Lee Ji Eun meminum kopinya

“Bersiaplah, setengah jam lagi kita ada rapat yang di pimpin oleh Direktur sementara dari agensi pusat” tambah Ji Eun

Jeongmal?” sahut Seulgi

“Kenapa tiba-tiba?” tambah Suzy

“Aku juga tidak tahu, sudah cepat sana siap-siap” usir Ji Eun jengah

Setengah jam kemudian rapat di mulai dan beberapa staf sudah berkumpul di ruang rapat sementara sang pimpinan belum mucul. Suzy sibuk memainkan pulpen diatas meja sedangkan Seulgi sibuk mengobrol dengan Ji Eun. Pintu ruangan terbuka dan memunculkan si pimpinan yang ditunggu sejak tadi.

“Selamat pagi, semua” sapanya sudah berdiri di depan meja khusus untuk Direktur

Suzy tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya karena direktur sementara yang di maksudkan adalah Park Chanyeol. Seulgi melirik sedikit kearah Suzy untuk melihat ekspresi gadis itu dan ia bisa melihat wajah terkejutnya. Ia tersenyum jahil “Dasar gadis beruntung” bisiknya di telinga Suzy

Selama rapat berlangsung tidak banyak kata-kata yang dikeluarkan Suzy, sesekali ia melirik Chanyeol. Berbagai kalimat bermunculan di benaknya, apakah Chanyeol masih mengingatnya atau tidak? Chanyeol pasti sudah berubah karena semenjak pertemuan pertama mereka Chanyeol tidak pernah menatapnya lebih dari 3 detik, bahkan saat Suzy berbicara tadi di rapat ini. Entah kenapa mengetahui bahwa Chanyeol tidak pernah menganggapnya membuatnya kecewa.

Rapat selesai dan seluruh staf sudah keluar dari ruang rapat termasuk Chanyeol.

“Ini profil dan konsep girl group yang debutnya tertunda” ujar Kim Suho menyerahkan proposal

“Bagaimana dengan lagunya?” tanya Chanyeol membuka lembaran proposal tersebut

“Sedang dipertimbangkan oleh staf pelatihan vokal” balas Kim Suho

“Baiklah, aku akan memeriksanya lebih lanjut nanti. Kau boleh pergi” sahut Chanyeol menutup proposal itu

Suho mengangguk sopan “Saya permisi dulu” pamitnya keluar dari ruangan Chanyeol

Setelah itu Chanyeol menyambungkan telepon di meja kerjanya kepada sekretaris yang berada di luar ruang kerja “Tolong panggilkan staf dari bagian pelatihan vokal keruanganku segera” ujarnya

Algeseubnida, Sajangnim” jawab Sekretarisnya sopan

Beberapa saat kemudian bunyi ketukan pintu terdengar dan Chanyeol yakin itu adalah staf pelatihan vokal yang tadi ia panggil “Masuk” sahutnya

“Anda memanggil saya, sajangnim?” tanya Suzy sesaat dirinya sudah berada di hadapan Chanyeol

Chanyeol mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang di bacanya dan melirik sebentar kearah Suzy “Ya, aku ingin membahas tentang lagu yang akan digunakan oleh girl group yang akan segera debut”

“Ne, saya sedang mempertimbangkan lagu yang cocok untuk mereka” jawab Suzy berusaha untuk tidak gugup

Pembahasan mereka sejak tadi hanya sekedar tentang pekerjaan dan benar-benar formal, sangat berbeda dengan mereka waktu remaja. Sekarang mereka seperti tidak pernah saling mengenal satu sama lain. Ini semakin membuat Suzy sadar kalau masa lalu hanya sebatas masa lalu yang tidak berharga sama sekali bagi Chanyeol. Tapi biarkan Suzy berharap, tidak bisakah setidaknya Chanyeol menyapa walau sangat formal sekalipun sebagai pertanda bahwa mereka pernah saling mengenal.

“Kalau begitu saya permisi dulu” pamit Suzy setelah pembahasan mereka selesai, ia bangkit dari kursi setelah menunduk sopan dan saat sampai diambang pintu, pintu tersebut dibuka dari arah luar oleh seseorang dan memunculkan Krystal disana. Mereka berpandangan sebentar dan Krystal langsung menolehkan kepalanya kearah Chanyeol

Oppa, ayo makan siang bersama” sahutnya menghampiri Chanyeol

Suzy yang langkahnya sempat terhenti melanjutkan langkahnya keluar ruangan itu, sangat menyesakkan melihat wajah gadis itu pikirnya

***

“Kalian bahas apa tadi di ruangannya? Masa lalu?” tanya Seulgi jahil

“Masa lalu apa? Jangan bercanda” balas Suzy cuek

“Masa lalu yang tak terlupakan, mungkin” sahut Seulgi mendramatisir ucapannya

“Hey! Lebih baik makan saja kue beras ini dari pada kau terus mengoceh hal yang aneh!” sahutnya kesal dan memasukkan kue beras kedalam mulut Seulgi

Seulgi mendengus kesal dan mengunyah kue beras di mulutnya tanpa minat “Dasar gadis dingin!”

“Nanti malam mau nyanyi lagu apa?”

“Entahlah, kita lihat saja nanti” balas Suzy

…..

“Chanyeol-ah kau ada acara malam ini?” tanya Baekhyun

“Tidak. Kenapa?”

“Aku ingin mengajakmu ke kafe langgananku, malam ini gadis itu akan tampil”

Yeoja? Pacarmu?” tanya Chanyeol tidak minat

Ani. Hanya seorang gadis dengan suara merdu yang tampil setiap senin. Monday girl” ujarnya tersenyum membayangkan

Chanyeol geleng-geleng melihat tingkah sahabat kecilnya ini, lama tidak berjumpa ternyata dia tidak berubah sedikitpun.

“Dan sekarang kau jadi penggemar rahasia?” sahut Chanyeol

“Kalau saja gadis itu tidak terlihat seperti es batu, aku bersumpah sudah memacarinya”

Chanyeol tertawa meremehkan “Dasar payah!” ejeknya

“Hey! Kau akan merasakannya jika berada di posisiku! Dia benar-benar berbeda”

“Ya ya, baiklah. Lakukan sesukamu” balas Chanyeol tidak peduli

“Aish, tunggu saja saat kau merasakannya” sambarnya mengutuk Chanyeol yang sudah pergi ke dapur

“Malam ini aku tidak bisa pergi bersamamu, aku sudah ada janji dengan Soojung” Chanyeol muncul kembali dari arah dapur dengan membawa segelas kopi

Baekhyun mendengus “Kau sangat tidak beruntung karena tidak jadi mendengar suaranya kalau begitu”

Chanyeol mengabaikan ucapan Baekhyun dan memilih fokus pada berita di TV.

***

Malam ini Suzy tampil kembali di cafe seperti senin yang lalu. Dengan menenteng gitarnya ia naik ke atas panggung seperti biasa. Di kursi paling pojok sudah ada Seulgi dengan segelas cappucinonya.

Ia mulai memetik gitarnya dengan tempo yang sedikit cepat dan teratur.

Sinar bulan muncul lagi di langit

Angin berhembus lebih indah

Akankah dirimu membuat jantungku berdebar?

Aku senang melihatmu lagi

Senyummu masih begitu hangat

Itu tetap sama jadi aku sangat bersyukur

Kata-kata yang tidak bisa kukatakan untuk waktu yang lama

Aku menyukaimu begitu dalam,

Aku masih sangat menyukaimu

Apa kau ingat hari pertama kita bertemu?

Aku tidak tahu, aku selalu berlama-lama dibelakangmu

Aku memandangmu dari jauh dan kemudian berpaling

Setiap malam, malam tanpa tidur

Hari berlalu dan aku hanya memikirkanmu

Aku kelelahan berjalan menuju dirimu

Aku akan ingat, aku merindukanmu

Cinta pertamaku…adalah kau

….

Suara tepukan tangan terdengar. Suzy turun dari panggung dan berjalan menuju meja Seulgi

“Heol! Sepertinya aku tahu lagu ini untuk siapa!”

“Pikirlah sesukamu” balas Suzy cuek

“Hallo, boleh aku minta tanda tanganmu?” sahut sesorang ke meja Seulgi dan Suzy

“Aku?” tanya Seulgi

“Bukan, tapi dia” ujar pria itu menunjuk Suzy

Suzy tersenyum ramah pada pria itu dan menerima buku yang di sodorkannya lalu menandatanganinya “Aku bukan idol tapi kenapa kau meminta tanda tanganku?” tanya Suzy heran

“Karena setiap orang berhak punya penggemar, bukan? Dan aku penggemarmu karena suaramu sangat indah” ujar pria itu santai

“Kurasa kau benar” Suzy mengangguk setuju dan menyerahkan kembali buku itu padanya

“Namaku Byun Baekhyun” ujarnya mengulurkan tangan

“Aku…”

“Monday girl” potong Baekhyun cepat “Aku suka sebutan itu” lanjutnya

Suzy tersenyum geli dengan cara merayu pria ini, tentu saja ia tahu bahwa Baekhyun sedang berusaha merayunya. Ia cukup berpengalaman dengan para pria players yang sering merayunya namun tidak berhasil.

***

“Luangkan waktu malam ini, keluarga Im dari Hills Entertainment mengundang kita untuk makan malam bersama di rumah mereka” ujar Park Jin Young

“Keluarga Im?” kening Chanyeol berkerut bingung

“Ya, kau tahu kan agensi kita sedang ada proyek dengan agensi mereka” jelas Jin Young

Chanyeol menangguk mengerti “Baiklah, abeoji

Malam harinya, Chanyeol berangkat sendiri dari apartemennya menuju rumah keluarga Im, kedua orang tuanya lebih dulu pergi ke sana.

“Maaf saya terlambat” ujar Chanyeol setiba di kediaman keluarga Im. Disana sudah terlihat kedua orang tuanya bersama 3 orang lainnya yang Chanyeol yakini adalah keluarga Im. Mereka sedang mengobrol saat Chanyeol tiba

“Perkenalkan ini Putraku, Park Chanyeol” ujar Jin Young memperkenalkan Chanyeol dan Chanyeol menunduk sopan kepada mereka

“Putra anda sangat tampan Min Jung-ssi” ujar wanita paruh baya yang Chanyeol yakini nyonya Im “Dan ini putriku, Im Yoona” sambung wanita itu

“Putri anda juga sangat cantik” balas Ibu Chanyeol

“Mereka terlihat sangat cocok, bukan begitu?” tambah ny. Im

Ibu Chanyeol hanya tersenyum dan mengangguk setuju sementara Yoona sudah tersenyum malu-malu.

Acara makan malam berlangsung, Chanyeol lebih banyak diam mulai dari acara makan malam hingga pembicaraan tentang pekerjaan maupun tentang pribadi. Yoona sejak tadi melirik kearah Chanyeol dan tentu saja Chanyeol menyadari bahwa gadis itu pasti tertarik dengannya

….

“Menginaplah di rumah malam ini, ada hal penting yang ingin ayah bicarakan denganmu. Mobilmu akan dibawa oleh Sekretaris Kim” ujar Jin Young saat mereka sudah selesai makan malam

“Baik, abeoji” angguk Chanyeol dan masuk ke dalam mobil untuk menyetir mobil ayahnya

Mereka tiba di kediaman Park yang mewah tersebut dan setelah memarkirkan mobil Chanyeol segera masuk ke dalam rumah menyusul kedua orang tuanya yang tadi lebih dulu masuk. Di ruang tamu Park Jin Young dan Lee Min Jung istrinya sudah duduk menunggu Chanyeol. Chanyeol mengambil posisi duduk untuk mendengarkan apa yang ingin di bahas kedua orang tuanya.

“Apa yang ingin abeoji bicarakan?”

“Kau satu-satunya putra kami dan akan menjadi pewaris perusahaan, maka dari itu sudah saatnya kau untuk mengambil posisi itu. Ayah rasa kau sudah siap” jelas Jin Young

Chanyeol mengangguk mengerti, ia mengerti itu memang keputusan.

“Dan umurmu sudah cukup untuk ada seseorang yang mendampingimu” sambung Jin Young

Chanyeol berkerut bingung “Maksud ayah?” tanyanya tidak mengerti

“Menikahlah, kami sudah memiliki calon istri untukmu” ujar Jin Young serius

“Kalian sedang menjodohkank? aku bisa mencari calon istriku sendiri bantah Chanyeol berusaha tenang

“Kau tidak bisa menghindari perjodohan ini, Chanyeol. Dengan menikahi gadis ini kau akan diizinkan menjadi pewaris The Young Ent”

“Tapi abeoji…” bantah Chanyeol semakin frustasi

***

~To be continued~

Note : Hi hi! Long time no see, chingudeul! Legaaaanya bisa update ff abal-abal dan kadang gak jelas ini hehe 😀 I’m so sorry if I’m always late to update this annoying story. Udah terungkap kan apa yang terjadi selama 9 tahun belakangan? Dan masih ada lagi yang belum terungkap kok hehe biar agak greget gituh karena perjalanan cinta segitiga eh segilima deng di karna ada neng Yoona dan bang Sehun (mungkin?) jadi masih panjang banget. Jadi ditunggu terus ya (apaan sih ini author nyuruh nunggu mulu dia pikir nunggu itu gak capek apah? Abaikan)

Ohya, jangan lupa kunjungi blogku di : Buckwheat’s story-Suzy’s fanfiction!

Wattpad : Agasshiel

Oke, sekedar memberi bocoran aja nih. Karena aku lihat viewers untuk ff ini gak sebanding dengan yang kasih feedback jadi aku kasih ‘hadiah’ nih buat para silent readers yang masih setia dengan profesinya. Hehe hadiahnya yaitu ada part khusus yang nantinya bakal aku private jadi hanya readers setiaku yang bisa baca J jadi bagi para silent segeralah berubah karena kalian tahu kan gimana feedback kalian RCL sangat berarti bagi seorang penulis apalagi penulis amatiran sepertiku untuk menambah semangat agar belajar terus memperbaiki diri dan kreatifitasku. Bye.

Lagu yang dinyanyikan Suzy di cafe : Song by Byul-Remember

Agasshiel. XOXO

Advertisements