Tags

, , , , , , , , ,

DAY BY DAY CHAPTER 7

PicsArt_06-18-10.55.06

Title : Day By Day | Author : Agasshiel | Genre : Sad, Family, Marriage-life, Mellow-drama | Rating : PG-17 | Main Cast : Bae Suzy, Park Chanyeol, Jung Soojung | Other Cast : Find by yourself!

Note : This is a work of fiction. This is a fictional story about fictional representations of real people. No profit was made from this work. All cast belongs to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Don’t be silent reader and plagiator, please.

-oOo-

“Entah takdir apa yang Tuhan gariskan untuk hidupku dan hidupmu sehingga aku tidak punya pilihan lain. Bukan. Aku ingin menolaknya karena takut akan menyakitimu, namun keegoisanku harus menerima itu. Karena itulah takdir”

Recommended song : Sejeong (Gugudan)- Flower Road

~Story Begin~

Perusahaan tempat Suzy bekerja di buat geger karena kedatangan Im Yoona yang notabenenya adalah seorang model terkenal sekaligus putri tunggal dari Hills Entertainment –salah satu agensi terbesar di Korea Selatan. Dengan langkah anggun layaknya langkah seorang model ia melewati para staf yang memperhatikannya dari meja mereka dengan berbagai ekspresi

“Apa ini sejenis kisah cinta segita kalangan atas?” bisik staf cantik itu pada rekannya

“Mungkin. Wanita sejenis merekalah yang pantas berdampingan dengan direktur Park” desah rekannya yang berambut sebahu itu

“Memangnya gadis sejenis apa mereka?”

“Kau tidak tahu? Gadis seperti Bae Krystal dan Im Yoona yang hampir tidak memiliki kekurangan dalam segala hal. Bahkan berfikir untuk menyukai direktur Park jika saingannya seperti 2 gadis itu membuatku merasa kalah sebelum perang” decak gadis berambut sebahu tersebut

“Hey! Kalian sedang menggosip apa?” tegur Kang Seulgi yang datang bersama Suzy

Ani. Kami hanya sedang membicarakan Im Yoona yang kabarnya berpotensial menjadi tunangan direktur Park” balas gadis rambut sebahu tadi

“Im Yoona? Lalu bagaimana dengan Krystal Bae?” tanya Seulgi antusias dan sekilas ia melirik Suzy untuk melihat ekspresi gadis itu

“Entahlah siapa diantara mereka berdua yang akan menjadi tunangan direktur Park, tapi menurutku Im Yoona” balasnya mengangkat bahu

“Kenapa kau bisa berfikir begitu?” Seulgi mengerutkan keningnya

“Kabarnya direktur Park dan Im Yoona sudah pernah melakukan pertemuan keluarga dan hari ini Im Yoona datang berkunjung ke ruangan direktur Park, kemungkinan apalagi selain Im Yoona akan bertunangan dengan direktur. Kenapa aku sekarang merasa kasihan pada Krystal ya?” ujar gadis itu panjang lebar dan diakhiri nada sendu

Suzy hanya diam mendengar penuturan rekan-rekan kerjanya tersebut

“Seulgi-ah bukannya tadi tujuan kita adalah makan siang?” sahut Suzy dingin pada Seulgi yang baru saja akan membuka mulutnya untuk bergosip lagi

Ah~ matta. Ayo kita ke kantin” balas Seulgi menggandeng lengan Suzy

 

“Apa makananya tidak enak? Kau terlihat tidak berselera hari ini” tegur Seulgi yang melihat Suzy hanya memakan nasinya sedikit

“Eum. Aku sudah kenyang”

“Kau cemburu ya?” tanya Seulgi to the point yang membuat Suzy langsung melototkan matanya

“Cemburu apa?” tanyanya bingung

“Ayolah, Suzy! Aku cukup mengenal dirimu. Kau menyukai Park Chanyeol, kan?”

“Tidak”

“Bohong!”

“Aku tidak bohong!”

“Lalu kenapa?”

“Apanya?”

“Aku tahu selama ini kau masih memperhatikannya, dan aku yakin kau masih menyukainya”

“Walaupun aku memperhatikannya, itu tidak akan berarti apa-apa. Semua sudah berubah dan itu hanya masa lalu yang tidak berarti sama sekali” balas Suzy

“Tapi setidaknya kau harus jujur pada dirimu sendiri, walaupun tidak untuk orang lain”

Suzy menatap diam kedalam mangkuk nasinya mendengar perkataan Seulgi, saat mendongak matanya menangkap sosok yang menjadi kegalauannya belakangan ini. Ketenangan yang selama bertahun-tahun berhasil ia pertahankan harus terusik hanya karena kehadiran mereka kembali. Suzy tidak tahu harus senang atau sedih, semua terlalu rumit dan tidak jelas.

 

 

Chanyeol termenung di dalam ruangan kerjanya. Percakapan dengan kedua orang tuanya tentang pernikahan semalam benar-benar menganggu pikirannya sejak semalam. Bagaimana mungkin dan takdir semacam apa yang ia akan alami ini, ia benar-benar tidak percaya dengan keputusan dengan alasan yang menurutnya konyol tersebut.

Suara ketukan yang berasal dari pintu ruangan membuyarkan semua pikiran yang berkecamuk di kepalanya, setelah meyuarakan agar si pengetuk pintu untuk masuk ia menoleh kearah pintu dan mendapati Im Yoona yang sedang berjalan menuju sofa yang berada dalam ruangan tersebut

“Ah~ jadi seperti ini ruangan seorang Park Chanyeol” sahut Yoona duduk dan memperhatikan sekeliling ruangan itu

Chanyeol bangkit berdiri dari kursinya dan berjalan menuju sofa “Ya, seperti yang kau lihat”

“Benar-benar menarik, persis seperti dirimu” ujarnya tersenyum penuh arti

Chanyeol bukannya tidak tahu apa dibalik senyum itu, tentu saja ia tahu bahwa gadis ini tertarik dengan dirinya dan ia cukup sering melihat tatapan seperti itu “Dan aku ingin tahu hal apa yang membawa gadis cantik sepertimu kemari?” tanya Chanyeol genit

“Kupikir dengan alasan pekerjaan akan masuk akal, bukan?” balasnya dan menyilangkan kedua tangannya

“Entahlah, menurutku itu bukan alasan yang sebenarnya” balas Chanyeol tersenyum penuh arti

Yoona tertawa renyah “Ternyata kau benar-benar peka Chanyeol-ssi”

“Dan ternyata kau cukup berani Yoona-ssi” balas Chanyeol

Yoona mengangkat bahunya “Tentu saja, untuk mendapatkan hal yang kuinginkan aku harus berani, bukan?” senyum kecil merayap di wajahnya

Chanyeol mengangguk kecil “Ya kau benar, tapi ada kalanya hal itu tidak bisa kau miliki”

“Ya, aku tahu. Tapi itu masalah akhir, yang terpenting itu adalah usaha” balas Yoona

Chanyeol cukup terkejut dengan ucapan Yoona, ekspetasinya mengenai gadis ini melenceng jauh. Gadis ini memang terkenal ramah dan profesional tapi ia tidak tahu jika itu memang kenyataannya.

“Oppa, ayo makan siang ber-“ Krystal yang menerobos masuk ruang kerja Chanyeol tanpa mangetuk pintu terlebih dahulu

Krystal tidak bisa menyembunyikan raut terkejutnya melihat Yoona berada diruangan Chanyeol.

“Senang bertemu denganmu Krystal-ssi” sapa Yoona terlebih dahulu

Krystal tersenyum sinis “Senang bertemu denganmu juga Yoona-ssi” ujarnya

Yoona beranjak dari duduknya “Seperti kalian akan ada acara, kalau begitu saya pamit dulu Chanyeol-ssi” ujarnya lalu membungkuk, saat melewati Krystal ia sempat tersenyum sinis pada gadis itu

“Jelas-jelas dia itu rubah” gumam Krystal memandang pintu yang baru saja ditutup Yoona

“Kau cemburu, eoh?” sahut Chanyeol berdiri dan merangkul Krystal

“Ck pada gadis itu? Jangan mimpi!”

Chanyeol terkekeh geli “Dasar kekanakan” Chanyeol menyentil dahi Krystal

“Oppa!” rengek Krystal

Arraseo arraseo, ayo makan siang” ujar Chanyeol mengalah dan membawa gadis itu keluar dari ruangannya menuju cafetaria

***

Chanyeol dan Krystal berjalan beriringan di cafetaria sambil membawa nampan yang berisi nasi dan lauk untuk makan siang mereka. Pergerakan mereka tidak luput dari perhatian semua orang disana, dikarenakan Chanyeol adalah orang yang sangat penting di perusahaan tersebut apalagi sekarang ia sedang bersama gadis cantik yang terkenal –Krystal- semakin menarik perhatian semua orang tak terkecuali Suzy dan Seulgi yang juga sedang menikmati makan siang mereka di cafetaria itu.

Chanyeol dan Krystal duduk bersebrangan, meja mereka dan meja tempat Suzy tidak cukup jauh hanya dipisahkan 2 meja sehingga Suzy dapat dengan jelas melihat wajah Chanyeol dari sana. Suzy memandang diam wajah Chanyeol, ia benar-benar ingin sekali melihat wajah itu sedekat yang Krystal lakukan sekarang ini.

Tapi apalah daya seorang Bae Suzy yang hanya bagian masa kecil yang –mungkin- tidak berharga bagi Chanyeol. Sebenarnya itu memang benar bahwa kenangan itu tidak berharga sama sekali, saat itu Chanyeol dan Suzy tidak benar-benar dekat, hanya sesekali saling menyapa itupun terjadi karena Krystal dan kejadian mereka bersama-sama itu hanya sebuah kebetulan belaka yang tidak punya makna khusus jadi apa yang membuat Suzy sangat berharap? Wajar saja sekarang Chanyeol bertindak seolah tidak pernah terjadi apa-apa di masa lalu. Sadarlah Bae Suzy!

Suzy mengalihkan pandangannya dari pemandangan di depannya dan mendesah berat setelah berdebat cukup lama dengan pikirannya.

“Aku sudah selesai, ayo balik ke kantor” Suzy beranjak dengan membawa nampannya, berada disana lama-lama membuat otak dan hatinya kehabisan tenaga

Eoh, baiklah. Aku juga sudah selesai” Seulgi beranjak menyusul Suzy

Chanyeol melirik sekilas ke arah Suzy yang baru saja keluar dari cafetaria, ia mendesah berat mengingat kembali masalah yang masih menjadi beban pikirannya sejak semalam “Kenapa harus gadis itu?” gumamnya pelan

“Eum, oppa bilang apa?” Tanya Krystal yang mendengar samar-samar gumaman Chanyeol

“Tidak, tidak ada apa-apa” balas Chanyeol tersenyum

***

“Jadi bagaimana keputusanmu? Ayah yakin kau sudah bertemu gadis itu, bukan?” tanya Jin Young menyandarkan punggungnya di kursi

“Tidak, aku sudah memiliki calon istriku sendiri abeoji” sanggah Chanyeol

“apa maksudmu Soojung?” tebak ayahnya

Chanyeol menatap serius kearah ayahnya “Abeoji tahu sendiri aku dan Soojung sudah bersama sejak kecil dan..”

“Aku tahu kau sangat mencintai Soojung tapi ada yang lebih penting dari itu, jika kau terbiasa dengan gadis yang telah dijodohkan denganmu kau juga akan mencintainya”

“Tidak, ayah tidak mengerti apa yang kurasakan. Itu bukan cinta, itu hanya sebuah perasaan saling membutuhkan” ujar Chanyeol nafasnya naik turun berusaha tenang

Jin Young menarik nafasnya dalam “Tidak perduli apa yang kau katakan Chanyeol-ah, kau akan tetap menikahi gadis itu karena ini sudah menjadi wasiat kakekmu agar kau bisa menjadi pewaris perusahaan. Sekarang ayah hanya tinggal meyakinkan gadis itu agar mau menikah denganmu”

Chanyeol mendesah kasar, ia benar-benar kehabisan kata-kata untuk melawan sang ayah dan memutuskan untuk keluar dari ruang kerja ayahnya tersebut setelah sebelumnya membanting pintu Chanyeol mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat, wajahnya memerah menahan amarah. Jendela mobil yang ia biarkan terbuka membuat angin malam menerbangkan rambutnya, mata tajamnya tidak luput dari jalanan di depan dan sesekali memukul stir mobil dengan marah untuk meredakan emosinya. Sepertinya bar merupakan tempat yang tepat untuk meredakan stress pikirnya.

“Hey! Tumben sekali kau mengajak minum-minum?” sahut Shin Wonho menepuk punggung Chanyeol yang duduk di depan pantry yang berisi berbagai macam minuman beralkohol

Chanyeol melirik sekilas kearah sahabat sekaligus sekretarisnya itu dan meneguk kembali cairan berwarna keemasan dari gelas kecil bening tersebut

“Sepertinya kau benar-benar sedang stress” Wonho mengambil posisi duduk yang sama dengan Chanyeol di depan pantry

“Apa yang harus kulakukan?” tanyanya frustasi

Wonho menuangkan minuman ke gelasnya “Apa ini masalah tentang perjodohanmu?”

Chanyeol menghembuskan nafasnya kasar, Shin Wonho memang mengetahui setiap masalah yang dialami sahabat sekaligus bosnya ini dan ia cukup mengerti perasaan pria itu.

“Melihat keadaanmu yang seperti ini membuatku merasa beruntung tidak terlahir sebagai pewaris dari keluarga chaebol yang selalu tidak jauh dari kata-kata perjodohan untuk bisnis” ledek Wonho terkekeh

“Hey! Kau kesini hanya untuk mengejekku, eoh? Kau tidak membantu sama sekali” dengus Chanyeol

Wonho tertawa mengejek “Kau tahu untuk urusan yang satu ini aku tidak bisa membantu sama sekali karena aku tidak mungkin bisa mengubah surat wasiat kakekmu, aku takut di gentayangi” ujar Wonho bercanda namun malah dihadiahi pelototan dari Chanyeol

“Aku masih bingung kenapa kalian sampai bisa di jodohkan dari kecil tapi kau baru mengetahuinya setelah dewasa? Dan apa gadis itu juga tidak tahu sama sekali tentang perjodohan ini?”

“Gadis itu juga tidak tahu”

“Lalu dimana gadis itu sekarang?”

“Dia..”

***

Entah dengan tujuan apa hari ini Jin Young mendatangi Chanyeol di perusahaan. Perusahaan yang sekarang tempat Chanyeol bekerja memang bukan perusahaan utama, perusahaan pusat masih di pegang oleh Park Jin Young sebagai CEO karena Chanyeol yang belum resmi menjadi penerus masih menjabat sebagai Direktur di perusahaan cabang mereka ini.

“Ada apa ayah berkunjung kesini hari ini?” Chanyeol duduk berhadapan di sofa yang berada di ruangannya tersebut

“Aku ingin membicarakan hal itu langsung dengan kalian berdua, berhubung gadis itu juga bekerja disini” Jin Young berujar tegas

Abeoji, kumohon tidak bisakah kita tidak membahasnya dulu. Aku masih butuh waktu” erang Chanyeol frustasi

“Menunda terus menerus tidak akan membuahkan hasil, Chanyeol. Apa kau ingin aku harus terus menerus melakukan pekerjaan di usiaku yang sudah tua sementara sebenarnya aku punya putra yang bisa kuandalkan”

Chanyeol terdiam “Apakah tidak ada jalan lain selain menikahi gadis itu?”

Jin Young menggeleng “Kau tahu sendiri jawabannya dan sudah sejak lama ayah memantau gadis itu dan ia adalah gadis baik yang tepat untukmu. Ayah yakin cepat atau lambat kau akan mencintainya”

“Apa maksud ayah Krystal tidak tepat untukku? Semua tidak semudah itu” Chanyeol bertanya dingin

“Ayah mengenal Krystal sejak kalian masih kecil dan ia gadis yang baik tapi kau tahu sendiri ini semua sudah menjadi keputusan” tegas Jin Young

Chanyeol beranjak menjauhi sofa dan mengacak rambutnya frustasi “Argh…” erangnya kuat

Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka berdua “Masuk” sahut Chanyeol dingin

Jin Young tersenyum tulus melihat si pengetuk pintu masuk dan memberi salam sopan “Anda memanggil saya, sajangnim?” tanyanya

“Ya, silahkan duduk Suzy-ssi” ujar Jin Young menunjuk sofa

Suzy menunduk sopan pada lelaki paruh baya yang Suzy yakini adalah ayah dari direkturnya ini –Park Chanyeol

Chanyeol kembali duduk ke posisinya yang tadi untuk mendengarkan penuturan serius dari ayahnya. Suzy melirik sekilas kearah Chanyeol dan mendapati raut wajah dingin pria itu

“Ada hal penting yang ingin kami sampaikan padamu, Suzy-ssi” Jin Young berujar serius untuk memulai percakapan mereka

Raut wajah bingung terlihat jelas di wajahnya, ia mulai bertanya-tanya dalam hati hal penting apa yang ingin disampaikan padanya sampai-sampai sang CEO sendirilah turun tangan yang menyampaiakan padanya. Jika ini masalah pekerjaan, hal besar apa yang telah ia lakukan sampai di di panggil menghadap direktur dan CEO perusahaannya ini. Apa ia telah melanggar sesuatu atau apa ia akan di pecat? Ini benar-benar membuatnya gugup ditambah raut wajah Chanyeol yang dingin semakin menambah keyakinan kalau dia telah membuat kesalahan fatal.

“Hal penting apa yang ingin Anda sampaikan, Hoejangnim?” Suzy bertanya serius

.

.

.

Suzy merosotkan tubuhnya di lantai kamarnya, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah juga. Sekuat tenaga meremas bagian dada yang menjadi asal sakit hatinya dan menggigit bibir bagian bawahnya dengan kuat. Sekali lagi. Sekali lagi ia harus menerima sakit hati itu, entah kenapa kenyataan ini begitu menyakitkan walaupun sebenarnya dibalik kenyataan itu hanya hal konyol tapi entah kenapa itu tidak dapat diterima oleh akal sehatnya. Suzy menatap selembar foto yang sejak tadi ia genggam, foto yang diberikan oleh Park Jin Young saat diruangan kerja Chanyeol. Melihat foto itu semakin mengiris hatinya, takdir semacam apa yang telah Tuhan gariskan untuk hidupnya. Betapa malangnya kehidupan bayi kecil yang berada di foto ini pikir Suzy, yang mana bayi itu adalah dirinya sendiri. Kenyataan bahwa hidupnya sejak kecil tidak berarti hingga dikorbankan untuk orang lain. Kenapa bukan Soojung? Mereka lebih dekat, apa mereka takut jika terjadi sesuatu pada Soojung? Apa mereka tidak mengkhawatirkan dirinya juga? Air mata yang berasal dari kelopak mata Suzy tiada hentinya mengalir kala mengingat semua perkataan Park Jin Young tadi

Jin Young mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku jasnya dan memberikannya pada Suzy. Suzy menerima foto itu dan menatapnya dengan bingung “Harabeoji” gumamnya melihat foto yang dimana kakeknya sedang menggendong bayi perempuan dengan pakaian tradisional Korea dan disebelahnya juga ada seorang pria yang menurut perkiraannya seumuran kakeknya, juga sedang menggendong bayi lelaki dengan pakaian tradisional Korea

“Ya itu adalah foto mendiang kakekmu dan kakek Chanyeol dan kedua bayi itu adalah dirimu dan Chanyeol” Jin Young menjelaskan saat melihat raut wajah penuh tanya Suzy dan Suzy dibuat semakin bingung kenapa mereka menunjukan ini padanya dan apa tujuannya.

Suzy tidak terlalu terkejut saat mengetahui kakeknya dan kakek Chanyeol dekat karena saat dulu ia masih tinggal bersama keluarga Soojung, ia tahu bahwa keluarga Chanyeol cukup dekat dengan keluarga Soojung dan tentu saja kakeknya dekat dengan kakek Chanyeol. Yang membuatnya bingung saat ini kenapa dirinya di panggil kesini dan ditunjukan foto ini, sepertinya ini bukan masalah pekerjaan.

“Lalu?” tanyanya mengalihkan pandangan dari foto di tangannya

“Begini, Suzy-ssi. Dulu saat kau dan Chanyeol masih bayi kakek kalian membuat sebuah kesepakatan yaitu dengan menjodohkan kalian”

Terlihat jelas keterkejutan di wajah Suzy mendengar penuturan ayah Chanyeol

Jin Young melanjutkan “Saat itu sejak lahir Chanyeol sering sakit-sakitan…” ia menghentikan ucapannya dan melihat kearah Chanyeol yang sejak tadi hanya diam dengan wajah datarnya

“Kami sering membawanya ke Dokter dan mereka bilang itu bukan penyakit serius, hanya demam biasa yang sering di alami oleh bayi. Tapi penyakit itu sering menyerangnya tiba-tiba membuat kami khawatir. Dan menurut kepercayaan zaman dulu, itu bukan sebuah penyakit melainkan energi negatif yang menyerang tubuhnya. Solusinya Chanyeol membutuhkan penawar yaitu energi positif dari tubuh seorang bayi perempuan sehat yang akan menghisap energi negatif itu dari dalam tubuhnya. Resikonya adalah energi negatif itu akan berpindah pada tubuh si penawar yang mengakibatkan si penawar yang akan merasakan semua penyakit itu. Setelah upacara perjodohan kalian dilakukan Chanyeol sudah jarang sakit dan beruntung itu tidak juga tidak berdampak buruk bagi kesehatanmu saat itu” Chanyeol tertawa sinis dengan cerita yang menurutnya konyol itu

Entah benda tajam apa yang menusuk hati Suzy hingga rasanya begitu sakit, ia menahannya sebisa mungkin agar tidak menumpahkan seluruh air matanya disana setelah mendengar semua kenyataan pahit itu.

“Mungkin kau sangat kecewa dengan kami yang mengorbankan dirimu untuk menjadi penawar bagi penyakit Chanyeol tapi percayalah itu kami lakukan karena saat itu kami sangat putus asa dengan penyakit Chanyeol sehingga terpaksa percaya melaksanakan upacara kepercayaan zaman dulu yang kami lakukan hanya bentuk formalitas saja. Dan kakekmu dan kakek Chanyeol saat itu bersahabat baik jadi ia bersedia untuk membantu Chanyeol bebas dari penyakit itu” Jin Young bisa melihat betapa kecewanya Suzy dengan kenyataan itu

“Betapa leganya karena energi negatif itu hanya sebuah kepercayaan kuno saja yang ternyata tidak berpengaruh terhadapmu Suzy-ssi” ujar Jin Young merasa bersalah

“Dan perjodohan itu lantas tidak berakhir hingga kalian dewasa, kalian akan menikah seperti perjanjian yang telah kakek kalian buat” Suzy mendongakkan kepalanya yang sejak tadi tertunduk mendengar penjelasan Jin Young

“Tapi, saya…”

“Kami akan memberimu kesempatan untuk memikirkannya, jangan terburu-buru menjawabnya”

Suzy melihat kearah Chanyeol yang masih setia dengan wajah dinginnya, terlihat jelas bahwa Chanyeol sangat tidak menginginkan perjodohan ini. Tentu saja lelaki itu tidak mengininkannya pikir Suzy.

“Tapi kenapa harus saya? Bagaiman jika saya menolaknya?” Chanyeol mengalihkan pandangannya untuk menatap Suzy

“Ini mungkin terdengar egois Suzy-ssi, tapi jika kalian tidak menikah Chanyeol tidak akan bisa menjadi pewaris The Young Ent. Dalam surat wasiat yang ditinggalkan kakek kalian, syaratnya yaitu Chanyeol harus menikahi Bae Suzy cucu dari Bae Dong Hwan sebagaimana seperti perjodohan kalian 20 tahun lalu saat kalian masih berumur 3 tahun”

Suzy balas menatap Chanyeol, ah pantas saja ia diminta untuk memenuhi perjodohan itu demi keuntungan Chanyeol pikirnya, hanya agar Chanyeol bisa menjadi penerus. Apa setelah pernikahan itu ia akan dicampakan karena tidak dibutuhkan lagi? Kenapa hatinya semakin hancur mengetahui bahwa dirinya hanya untuk bahan perjodohan diatas bisnis bukan karena atas dasar cinta. Cinta? Itu mungkin terdengar berlebihan, setidaknya kata-kata ‘Niat’ lebih masuk akal tapi itupun sepertinya tidak pantas. Adakah yang memikirkan perasaannya selama ini? Adakah yang tahu betapa hancurnya hatinya menjadi bahan pengorbanan semata demi keuntungan orang lain selama ini.

 .

.

Suzy sudah tidak sadarkan diri, tangannya terkulai lemas hingga foto itu terlepas dari genggamannya. Matanya membengkak dan tenaganya sudah terkuras semua karena menangis sejak tadi.

“Suzy-ah aku pulang” seru Seulgi membuka pintu apartemen

“Ah~ laparnya. Suzy-ah kau sudah makan malam? Ayo pesan jajangmyeon” sahutnya meletakkan tasnya di atas sofa

“Kemana gadis itu. Apa dia belum pulang? Sepertinya sudah, disana ada sepatunya” gumamnya pada diri sendiri karena sahutannya tidak dibalas sejak tadi

Keningnya berkerut “Apa dia di kamar?” gumamnya berjalan menuju kamar Suzy

Ia memutar kenop pintu “Hey! Kau sudah tid…” ucapannya terhenti kala mendapati tubuh Suzy tergeletak lemas di lantai

“Suzy-ah kau kenapa? Kau sakit? Kenapa tidak telfon aku. Hey! Kumohon bangunlah” Racau Seulgi memeluk tubuh Suzy penuh kekhawatiran

Sudah 3 hari Suzy tidak masuk kerja. Tubuh, jiwa, serta hatinya masih tidak dapat bekerja dengan baik. Ia masih berbaring lemah di tempat tidurnya, wajahnya pucat.

“Bagaimana keadaanmu? Ini aku buatkan bubur untukmu” Seulgi duduk di tepi ranjang

Gomawo Seulgi-ah” senyum kecil merayap di bibir pucatnya

“Sebenarnya ada apa? Kau tahu, kau terlihat sangat menyedihkan sekarang! Aish..” Seulgi tidak bisa menahan naluri kecerewetannya bahkan saat melihat gadis sakit di depannya

Suzy hanya tersenyum kecut dan menunduk “Ceritalah, aku akan selalu mendengarmu. Aku akan merasa sangat tidak berguna jika tidak mengetahui masalah sahabatku ini” bujuknya tersenyum hangat

“Aku..” Suzy terlihat ragu untuk menceritakannya, tapi Seulgi adalah sahabat dan saudara tempatnya berbagi selama ini. Seulgi yang selalu ada disampingnya dan tentu saja Seulgi harus mengetahui ini juga bukan.

Suzy menghembuskan nafasnya perlahan “Sebenarnya…” Ia menceritakan seluruh masalah yang menjadi beban pikirannya belakangan mulai masalah masa lalu dan perjodohannya dengan Chanyeol

Seulgi menutup mulutnya yang ternganga karena kaget, tapi dengan cepat ia mengendalikan dirinya untuk mendengarkan lebih rinci “Kau dan Chanyeol…dijodohkan?” itulah kesimpulan yang Seulgi dapatkan

Suzy mengangguk lemah “Apa yang harus kulakukan?” tanya menangis

Seulgi membawa Suzy kedalam pelukannya “Aku yakin kau bisa mengambil keputusan yang tepat, aku akan selalu mendukungmu apapun keputusanmu”

***

Suzy sudah mulai masuk kerja, tidak mungkin dirinya terus menerus izin tidak masuk. Lagipula tubuh dan jiwanya sudah baik-baik saja walaupun tidak dengan hatinya, tapi tentu saja ia harus melanjutkan hidup dan tidak berlarut-larut dengan kesedihan konyol bukan. Ia sudah cukup dewasa untuk menghadapi setiap masalahnya.

“Selamat pagi” sapanya pada beberapa staf saat melewati koridor dan memasuki lift yang kosong

Lift terbuka lagi menandakan ada orang yang akan masuk, kepalanya mendongak untuk melihat siapa yang masuk dan mendapati Chanyeol “Annyeong haseyo, sajangnim” sapanya menunduk sopan

Chanyeol mengangguk kecil dan masuk ke dalam lift, Suzy yang berada dibelakang Chanyeol merasakan aura kecanggungan yang pekat. Entah kenapa semenjak mengetahui kenyataan itu, hal itu semakin membuatnya canggung.

Ting! Bunyi lift yang membuyarkan kecanggungan mereka, Chanyeol yang sudah berada di lantai tujuannya keluar tanpa mengatakan sepatah katapun. Suzy mendesah lega karena ketegangan yang ia alami beberapa menit tadi. Ia bingung harus bersikap seperti apa setelah kejadian 3 hari lalu. Keputusan apa yang ia harus ambil, seandainya ada pilihan yang lebih tepat untuknya dengan keadaan yang tepat pula.

.

.

.

“Suzy-ssi bisa tolong kau antarkan proposal ini keruangan direktur?” pinta Ji Eun atasannya menyerahkan sebuah berkas

Ne? Sekarang?” tanyanya ragu

“Tahun depan. Ya sekarang. Kau yakin sudah sembuh, Kenapa tidak fokus?” decak Ji Eun geleng-geleng

Bagaimana ini? Aku benar-benar tidak siap harus bertemu dia dulu, cukup ketegangan tadi pagi di lift membuatnya resah. Ia mendesah berat sebelum melangkah menuju ruangan Chanyeol yang berada dilantai yang sama dengannya, tidak mungkin kan menghindari hal itu terus menerus

Setelah mengetuk pintu, terdengar sahutan yang Suzy yakini dari Direkturnya itu. Setelah memutar kenop pintu dan membuka pintu, matanya mendapati Chanyeol sedang bersama Krystal duduk di sofa. Terlihat pandangan tak suka yang ditunjukan Krystal padanya, masih dengan pandangan yang sama seperti 9 tahun lalu yang Krystal tunjukan padanya. Ia tidak berubah, masih membenci Suzy.

Suzy menunduk sopan “Saya ingin menyerahkan proposal yang Anda minta, Sajangnim” ujar Suzy

Chanyeol mengangguk kecil “letakkan saja di meja kerjaku” balas Chanyeol tanpa menatap Suzy

“Kalau begitu saya permisi dulu” pamit Suzy setelah menunduk sopan dan hendak melangkah menuju pintu namun ia hentikan saat mendengar sahutan Krystal

“Suzy-ssi kita sudah lama tidak berbincang bersama seperti waktu masih remaja, bagaimanapun juga kita masih saudara. Apa menurutmu kita ini tidak terlalu canggung?” sahut Krystal tersenyum sinis

Suzy membalikkan badannya menghadap Krystal “Entahlah, aku tidak yakin untuk itu” ujarnya berusaha tersenyum hangat

“Kenapa tidak? Bagaimanapun juga kau kakakku dan aku merindukan masa-masa itu. Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Bersama Chanyeol oppa juga” ujar Krystal dan tersenyum kearah Chanyeol

Entah keputusan apa yang Suzy ambil hingga berakhir disini bersama Chanyeol dan Krystal, di salah satu restoran yang berada tak jauh dari kantor mereka. Suzy sejak tadi hanya diam tidak tahu harus mengeluarkan kata apa, sementara Krystal yang sejak tadi tidak berhenti mengeluarkan tingkah manja pada Chanyeol dan Chanyeol sepertinya terlihat tidak masalah dengan hal itu. Tentu saja Chanyeol tidak keberatan, mereka sudah dekat sejak kecil dan Suzy dapat mengartikan bahwa Chanyeol sangat menyayangi Krystal dari tatapan mata dan perlakuan Chanyeol yang berbeda pada Krystal. Entah kenapa Suzy merasa panas dan sedikit iri dengan mereka. Apa hakku pikir Suzy.

Suzy menikmati makan siangnya dengan diam.

Suzy beranjak dari duduknya “Saya permisi ke toilet dulu” ujarnya

Sesampainya di toilet Suzy membasuh tangannya di kran, memperhatikan wajahnya di cermin besar yang berada di depan kran “Kau… kau benar-benar menyedihkan” ujarnya pada dirinya sendiri

“Kau suka?” Krystal tiba-tiba muncul dan berujar sinis

“Apa maksudmu?” balas Suzy cuek

“Kau tidak berubah. Kau masih suka merebut semua milikku” Krystal tertawa meremehkan

Suzy diam, tidak ingin membalas ucapan Krystal yang menurutnya tidak berbobot. Ia tidak ingin membuat perang yang hanya berakhir dirinya yang menjadi korban

“Dasar sial!” umpatnya

Suzy mulai merasa tersulut emosi, ia seperti deja vu “Kau yang selalu memulainya, tak bisakah kita tidak usah lagi saling mengganggu satu sama lain. Kita bukan remaja lagi” ujar Suzy berusaha tenang

Krystal tersenyum sinis “Entahlah, tapi kau yang selalu membuatku merasa terusik”

“Aku tidak mengganggumu” balas Suzy membela diri

“Tapi kau ingin merebut Chanyeol oppa dariku!” teriak Krystal “Aku tahu tentang perjodohan itu!” lanjutnya lebih emosi dan menatap Suzy nyalang

“Sadarlah Bae Suzy! Kau kira dirimu siapa? Kenapa kau tidak pernah sadar akan posisimu?” ujarnya mulai mendorong bahu kiri Suzy

Inilah Krystal yang sebenarnya, ia tidak berubah pikir Suzy

“Jangan bermimpi! Walaupun kau dijodohkan dengan Chanyeol oppa, itu tidak akan berpengaruh terhadapnya. Kau hanya bahan semata untuk keuntungan posisi Chanyeol oppa. Jangan pernah berharap!” ujarnya meremehkan dan sebelum meninggalkan tempat itu ia sempat menendang pintu toilet dengan kasar

Suzy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sejenak, lalu menatap cermin di hadapannya kembali. Ya, itulah Krystal yang Suzy kenal. Melihat itu membuat Suzy lega. Ia tersenyum sinis. Suzy sudah menetapkan keputusannya, sikap Krystal tadi menguatkan dan meyakinkannya akan keputusan yang ia ambil ini. Ia tidak akan mengalah dan lemah lagi. Ia harus membuktikan bahwa dirinya bukan Suzy yang dulu lagi, bukan Suzy yang lemah dan akan menerima segala penghinaan yang diberikan orang lain, ia bukan Suzy yang memikirkan perasaan orang lain dan mengorbankan perasaannya sendiri, bukan Suzy yang selalu menjadi korban, ia akan menjadi Suzy yang akan mendahulukan dirinya sendiri, ia akan membalas semua penghinaan yang ia terima, ia akan membuktikan bahwa dirinya bisa meski akan menyakiti orang yang dia sukai.

***

Malam harinya di kamarnya Suzy menatap aksesoris ditangannya yang dirinya sebut adalah dream cather, benda bulat berwarna ungu dengan berbagai hiasan itu merupakan benda yang tak pernah bosan ia pandangi selama ini. Sudah sangat lama. Ia tersenyum kecil kala mengingat kembali kenangan yang sudah sangat lama itu.

FLASHBACK

“Apa ini?” Suzy menerima benda berbentuk bulat dengan berbagai hiasan berwarna ungu itu dengan bingung

“Molla, mungkin jimat keberuntungan. Mereka bilang itu penangkap mimpi atau hal klasik semacam sesuatu yang baik. Tadi saat di toko aksesoris aku tertarik dan aku membelinya” ujar Chanyeol

Suzy menatap dan mengelus benda itu dengan jari-jarinya “Lalu, kenapa diberikan untukku?” Suzy bertanya ragu

Chanyeol tertawa pelan sebelum menjawab “Hm, entahlah. Aku merasa seperti benda itu sangat mirip denganmu.”

Suzy tersenyum kecut saat mengingat kembali masa-masa itu, benarkah Chanyeol tidak pernah sedikitpun merasa itu berarti. Lalu apa arti dream cather ini ia simpan selama ini? Apakah dirinya sendiri yang merasa ini berarti selama ini? Apa perasaan sepihaknya saja yang merasa itu berarti. Kau benar-benar bodoh Bae Suzy.

***

Pagi ini Suzy berangkat ke kantor seorang diri, Seulgi berangkat terlebih dulu karena ada rapat katanya. Suzy memainkan ponselnya selagi menunggu lift terbuka untuk mengantarkan dirinya ke lantai tempatnya bekerja, pintu lift terbuka dan menampilkan Krystal disana. Untuk apa Krystal berada di perusahaan ini sepagi ini pikir Suzy, biasanya gadis itu akan datang di siang hari untuk mengajak Chanyeol makan siang bersama. Tapi ini sangat pagi, dan entah kenapa mengingat gadis itu yang bukan bagian dari perusahaan ini tapi sering berkeliaran disini membuatnya jengkel. Ya, memang Krystal itu kekasih Chanyeol –mungkin jadi wajar saja ia sering kemari, tapi entah angin apa yang membuat Suzy merasa jengah.

Krystal tersenyum meremehkan kearah Suzy “Lucu sekali. Entah kesialan apa yang menimpa Chanyeol oppa sehingga harus terjebak denganmu”

Suzy balik memandang sinis “Dan entah kesialan apa yang membuat gadis sepertimu tidak bisa memiliki Chanyeol. Ini membuktikan bahwa lamanya waktu bersama tidak menjamin kalian akan bersama hingga akhir”

Krystal tertawa sinis “Hey! Jangan merasa menang dulu. Jangan pernah berfikir untuk memiliki Chanyeol oppa! Jangan bercanda. Kau tidak lebih dari hanya seorang parasit yang beruntung yang dibutuhkan sesaat. Kau benar-benar membuatku ingin tertawa” Krystal keluar dari lift yang sejak tadi ia tahan dengan kakinya agar tidak tertutup. Sebelum melewati Suzy ia sempat menabrak bahu gadis itu dengan sengaja

“Kita lihat saja apa yang bisa dilakukan parasit ini untukmu, Krystal-ssi” gumamnya tersenyum dingin dan masuk ke dalam lift yang hampir tertutup.

Suzy sudah membuat keputusannya, ia tidak akan kalah lagi. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan yang dulu, ia juga bisa melakukan hal yang diinginkannya. Cukup sudah semua orang tidak menghargainya, kenyataan pahit tentang dirinya tidak diinginkan dan dikorbankan oleh kakeknya membuatnya seperti ini. Ia akan memainkan perannya dengan semestinya.

Suzy mengetuk pintu ruangan Chanyeol, setelah terdengar sahutan dari dalam ia memutar kenop pintu dan masuk. Chanyeol mendongak menatap kedatangan Suzy.

“Ada yang ingin kusampaikan padamu” ujarnya serius setelah berdiri di depan meja kerja Chanyeol

“Ya, silahkan” balas Chanyeol

Suzy meletakkan benda bulat dengan berbagai hiasan ungu yang sejak tadi ia genggam di meja Chanyeol, Chanyeol memandang bingung benda itu.

“Jika kau menjawabnya dengan jujur, aku tidak akan mengorbankan siapapun” ujarnya sendu

“Apa…kau tahu arti dari benda ini?” Suzy bertanya pelan dan penuh harap agar Chanyeol menjawab sesuai dengan harapannya. Setidaknya itu akan menjadi alasanya untuk tidak egois

Chanyeol mengalihkan pandangannya dari benda itu dan menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai “Aku mungkin tidak mengerti maksudmu Suzy-ssi, tapi aku benar-benar tidak mengerti arti dari benda ini” ujarnya santai menatap manik mata Suzy

Suzy tersenyum kecut mendengar jawaban Chanyeol, pupus sudah. Ini akan menjadi awal dari keegoisannya sekarang “Gwaenchana. Aku hanya iseng bertanya” ujarnya berusaha menutupi kekecewaannya

Chanyeol menangguk mengerti “Ada hal lain yang ingin kau sampaikan?” tanyanya lagi menyatukan semua jari-jarinya diatas meja

Suzy menatap lurus manik Chanyeol “Aku… aku akan menerima perjodohan itu” ujarnya serius

***

~To be continued~

Note : Hi. Long time no see! seperti janjiku, ada beberapa part yang aku private hehe. Ini adalah ujian bagi reader setiaku, tapi hadiah bagi silent readerku. Hayooo.. siapa yang tebakannya tentang gadis yang dijodohkan sama Chanyeol salah? Unjuk gigi! Aku kok geli sendiri ya pas nulis alasan dibalik perjodohan Chanyeol-Suzy haha. Tapi ini serius loh ada kisahnya di kehidupan nyata, mereka tuh di jodohin karena alasan si cowo sering sakit-sakitan. Hehe jadi aku tuangin deh idenya ke ff. Jangan pernah bosan ya nantiin kelanjutan ff ini, walaupun aku updatenya lama tapi aku janji bakal update, kalaupun hiatus aku pasti bilang2 kok. Aku lagi sibuk banget dengan urusan kuliah makanya lama. Okedeh sekian cuap-cuapnya. Bye. Buat chingudeul semua selamat berbuka puasa 🙂

Agasshiel. XOXO

Advertisements